Mosturizer Non-comedogenic: Ciri-ciri Moisturizer yang Tidak Menyumbat Pori

M

Ingin kulit sehat dan lembab tetapi takut timbul jerawat? Sebaiknya gunakan moisturizer yang tidak menyumbat pori atau non-comedogenic. Ini ciri-cirinya! Moisturizer merupakan salah satu skincare routine yang penting untuk menjaga kelembaban alami kulit kita. Dan ternyata tidak hanya kulit kering lho yang memerlukan moisturizer atau pelembab kulit. Kulit berminyak pun perlu memakai moisturizer agar kulit tidak menjadi kering. Karena saat kulit menjadi kering, kulit akan memproduksi minyak yang berlebih untuk mengimbanginya.

Namun, salah satu masalah memakai moisturizer adalah kadang moisturizer dapat menyebabkan komedo atau jerawat. Hal ini disebabkan sebagian bahan aktif pelembab dapat menyumbat pori kulit yang akhirnya menimbulkan komedo dan jerawat. Apalagi bagi kulit berminyak dan mudah berjerawat, memakai moisturizer sembarangan dapat membuat jerawat semakin parah. Tetapi, tidak semua moisturizer dapat menyumbat pori. Saat memilih moisturizer, pilihlah yang non-comedogenic sehingga tidak menyumbat pori. 

Tentang Moisturizer Non-comedogenic

Moisturizer non-comedogenic adalah pelembab kulit yang diformulasikan sedemikian rupa sehingga tidak menimbulkan penyumbatan pada pori-pori kulit dan jerawat. Jika Anda melihat label non-comedogenic pada produk moisturizer atau kosmetik lainnya, artinya produk tersebut tidak mengandung bahan aktif atau komposisi lainnya yang menyebabkan penyumbatan pori.

Mengapa kita perlu memakai moisturizer non-comedogenic? Karena kita pasti tidak menginginkan pori-pori kita menjadi tersumbat. Pori-pori yang tersumbat dapat menyebabkan berbagai masalah kulit, seperti komedo, jerawat, tekstur kulit yang kasar, hingga warna kulit yang tidak merata. Jika Anda ingin menghindari berbagai masalah kulit tersebut, sebaiknya mulailah memilih moisturizer yang non-comedogenic.

Memakai moisturizer non-comedogenic juga disarankan bagi Anda yang memiliki kulit berminyak dan mudah berjerawat. Karena jenis kulit ini akan lebih mudah mengalami penyumbatan pori yang akhirnya menimbulkan komedo atau jerawat. Menurut sebuah penelitian, pemakaian kosmetik non-comedogenic pada wanita yang memiliki kulit yang mudah berjerawat dapat menurunkan tingkat jerawat yang disebabkan oleh kosmetik dari 25% menjadi kurang dari 5%.

Biasanya, moisturizer non-comedogenic juga memiliki sifat hypoallergenic dan bebas minyak. Namun perlu diingat bahwa moisturizer non-comedogenic tidak mengobati jerawat (kecuali jika memiliki bahan aktif yang melawan jerawat). Tetapi, formulasi moisturizer non-comedogenic tidak akan menyebabkan penyumbatan pori, dan pori-pori yang tersumbat adalah salah satu penyebab utama timbulnya komedo dan jerawat. Jadi, memakai moisturizer non-comedogenic adalah langkah awal untuk pencegahan komedo dan jerawat.

Moisturizer Non-comedogenic Cocok Untuk Kulit Jenis Apa?

Jenis kulit yang dapat dengan mudah mengalami penyumbatan pori adalah jenis kulit berminyak. Kelenjar sebasea dalam lapisan dermis kulit berminyak dapat memproduksi minyak dalam jumlah yang tinggi sehingga dapat menyumbat pori. Memakai moisturizer dengan formula yang mengandung bahan yang berpotensi menyumbat pori dapat memperparah penyumbatan pori pada kulit berminyak. Karena pori kulit semakin tersumbat, komedo dapat menjadi semakin banyak dan dapat timbul jerawat. Moisturizer non-comedogenic juga cocok digunakan bagi yang memiliki kulit acne prone atau mudah berjerawat.

Kulit yang rawan berjerawat banyak dialami oleh remaja pada masa pubertas, atau saat keseimbangan hormon dalam tubuh terganggu, misalnya wanita saat menjelang menstruasi atau saat mengkonsumsi obat hormonal seperti pil kontrasepsi. Pada kondisi inilah memakai moisturizer non-comedogenic dapat membantu mencegah timbulnya jerawat yang disebabkan oleh tersumbatnya pori kulit. Sebaliknya, memakai moisturizer yang berpotensi menyumbat pori akan membuat jerawat semakin mudah timbul.

Asal Usul Kosmetik Non-comedogenic

Konsep kosmetik non-comedogenic mulai diperkenalkan pada tahun 1970 atau 1980an, bersamaan dengan timbulnya istilah acne cosmetica, yaitu jerawat yang ditimbulkan oleh pemakaian kosmetik. Pada tahun-tahun tersebut mulai diketahui bahwa orang yang memiliki kulit mudah berjerawat dapat mengalami penyumbatan pori yang disebabkan oleh pemakaian makeup, krim, atau lotion hingga menyebabkan breakout atau jerawat yang semakin parah. Untuk mempelajari hal ini, pada masa itu peneliti mulai melakukan berbagai riset untuk mengukur seberapa jauh bahan-bahan kosmetik tertentu untuk menyebabkan komedo.

Salah satu riset pertama yang mempelajari potensi bahan-bahan kosmetik dalam menyebabkan komedo dilakukan pada tahun 1984 dengan mencobakan bahan-bahan kosmetik pada telinga kelinci. Telinga kelinci bersifat lebih sensitif terhadap pembentukan komedo. Jadi, jika suatu bahan dapat menyebabkan komedo pada telinga kelinci di eksperimen tersebut, maka potensi bahan tersebut menyebabkan komedo pada kulit manusia akan lebih rendah.

Pada penelitian tersebut ditemukan bahwa beberapa komposisi bahan yang sering digunakan pada moisturizer seperti lanolin, isopropil palmitat, isopropil stearat, dan lainnya merupakan bahan-bahan yang kuat dalam menyebabkan komedo. Hasil riset tersebut masih digunakan sebagai acuan hingga saat ini dengan didukung oleh berbagai riset terbaru.

Apa Itu Skala Komedogenik?

Salah satu cara mengetahui apakah moisturizer yang kita pakai benar-benar bersifat non-comedogenic adalah dengan mengetahui skala komedogenik dari bahan-bahan atau komposisi moisturizer. Kenali bahan-bahan atau komposisi moisturizer yang Anda pakai, dan carilah skala komedogenik dari masing-masing bahan tersebut.

Skala komedogenik adalah angka yang menunjukkan tingkat kemampuan suatu bahan untuk dapat menyumbat pori atau menyebabkan komedo. Skala komedogenik dinyatakan dalam angka 0 hingga 5 dengan keterangan sebagai berikut:

  • Skala 0 artinya bahan tersebut tidak berpotensi menyumbat pori.
  • Skala 1 artinya berpotensi rendah dalam menyumbat pori.
  • Skala 2 artinya berpotensi cukup rendah dalam menyumbat pori.
  • Skala 3 artinya cukup berpotensi menyumbat pori.
  • Skala 4 artinya berpotensi cukup tinggi dalam menyumbat pori.
  • Skala 5 artinya berpotensi tinggi untuk menyumbat pori.

Bahan yang dikategorikan sebagai non-comedogenic umumnya memiliki skala komedogenik 0 hingga 2. Misalnya, pomegranate seed oil dan rosehip oil memiliki skala komedogenik 1, sedangkan tamanu oil memiliki skala komedogenik 2. Maka dapat dikatakan moisturizer yang mengandung beberapa minyak alami tersebut masih dikategorikan non-comedogenic meskipun masih memiliki potensi untuk menyumbat pori kulit, dan tamanu oil memiliki potensi penyumbatan yang lebih tinggi. Beberapa bahan pelembab yang memiliki skala komedogenik terbawah (5) diantaranya adalah petrolatum, isopropil miristat dan turunannya, serta lanolin dan turunannya.

Skala Komedogenik Hanya Bersifat Kualitatif?

Skala komedogenik merupakan salah satu cara mengetahui apakah moisturizer yang kita gunakan bersifat non-comedogenic atau tidak. Tetapi, menurut seorang dermatologis dari Amerika, Dr. Olga Bunimovich, skala komedogenik ini hanya bersifat kualitatif saja, dan tidak bersifat kuantitatif. Apa maksudnya? Selama ini tidak ada standar yang pasti untuk menentukan tingkat komedogenik suatu bahan.

Pada beberapa penelitian, skala komedogenik ditentukan dengan menghitung jumlah komedon yang ditimbulkan oleh bahan tersebut pada telinga kelinci. Namun, tidak ada metode standar untuk menghitung komedon yang terbentuk ini. Sebagian riset melakukan penghitungan komedon melalui mikroskop, namun sebagian lagi melakukan analisa komedo yang timbul dengan pengamatan mata saja.

Dengan metode yang berbeda, tentunya hasil yang diperoleh juga akan berbeda. Lain halnya dengan penelitian yang dipublikasikan pada Journal of the American Academy of Dermatology pada tahun 2006. Penelitian ini mengamati pengaruh bahan yang berpotensi komedogenik dengan cara menghitung mikrokomedo dari biopsi pasien.

Pada penelitian ini, bahan-bahan yang menimbulkan peningkatan komedo di bawah 50% dikategorikan sebagai bahan non-comedogenic, dan penelitian ini tidak menggunakan dasar skala komedogenik. Jadi bagaimana cara menentukan apakah suatu bahan dalam moisturizer yang kita gunakan bersifat non-comedogenic atau sebaliknya? Ahli kulit menyarankan bahwa kita dapat menggunakan skala komedogenik sebagai salah satu acuan.

Namun perlu kita ingat juga bahwa acuan ini hanya bersifat kualitatif. Artinya, beberapa bahan akan dapat menyumbat pori hanya saat digunakan pada konsentrasi tertentu saja. Beberapa bahan yang bersifat komedogenik seperti lanolin dan lainnya dapat menyebabkan jerawat atau komedo pada kulit hanya saat digunakan pada kadar yang cukup tinggi untuk menimbulkan penyumbatan pori.

Bahan Moisturizer Komedogenik yang Perlu Dihindari

Menurut sebuah penelitian yang dilakukan pada tahun 1984 tentang potensi bahan-bahan untuk dapat menyebabkan komedo, beberapa bahan yang perlu dihindari karena memiliki potensi menyebabkan komedo yang cukup tinggi diantaranya adalah:

  • Isopropil miristat dan turunannya

Isopropil miristat merupakan bahan yang bersifat emolien yang dapat melembabkan dan melembutkan kulit yang kering. Isopropil miristat dapat mengatasi kulit yang kering bersisik, dan dapat meningkatkan pertahanan alami kulit serta melindungi kulit dari kekeringan.

Dengan manfaat di atas, tentu isopropil miristat adalah salah satu bahan pelembab yang baik untuk kulit. Tetapi, bahan ini dapat menyebabkan penyumbatan pada pori kulit. Beberapa turunan isopropil miristat yang juga dapat menyumbat pori diantaranya: 

  • Isopropil palmitat 
  • Isopropil isostearat 
  • Isostearil neopentanoat 
  • Octyl stearate 
  • Octyl palmitate
  • Myristyl myristate
  • Decyl oleate
  • Butyl stearate
  • Isocetyl stearate
  • Propylene glycol – 2- myristyl propionate

PPG-2-myristyl propionate merupakan salah satu bahan emolien yang juga dapat melembabkan kulit. Bahan ini memiliki potensi yang tinggi untuk menyumbat pori kulit.

  • Lanolin dan turunannya

Lanolin merupakan lemak yang dihasilkan dari bulu domba, yang dapat digunakan pada untuk merawat kulit dan rambut. Lanolin memiliki efek melembabkan kulit dan melindungi kulit dari kekeringan. Lanolin dapat digunakan untuk mengatasi kulit yang kering, pecah-pecah, dan bersisik. Namun, pemakaian lanolin sebagai moisturizer sebaiknya dihindari khususnya bagi yang memiliki kulit berminyak dan berjerawat, karena lanolin dan turunannya memiliki potensi yang tinggi untuk menyumbat pori. Turunan lanolin yang juga dapat menyumbat pori diantaranya adalah acetyl lanolin dan ethoxyl lanolin.

Minyak Alami Juga Dapat Menyumbat Pori

Banyak produk moisturizer yang mengandung bahan komedogenik sehingga tidak aman digunakan oleh kulit berminyak dan mudah berjerawat. Lalu apakah memakai moisturizer yang berasal dari minyak natural akan lebih aman untuk kulit? Belum tentu!

Beberapa minyak alami juga berpotensi tinggi untuk menyumbat pori, diantaranya:

  • Minyak kelapa (coconut oil)
  • Cocoa butter
  • Wheat germ oil
  • Shea butter
  • Olive oil
  • Avocado oil
  • Sweet almond oil
  • Apricot kernel oil
  • Soybean oil

Beberapa minyak di atas memang memiliki efek melembabkan kulit dan melindungi kulit dari kekeringan. Namun, pemakaian minyak tersebut dapat menimbulkan sumbatan pada pori kulit.

Bahan Moisturizer Non-comedogenic yang Perlu Dicari

Setelah kita mengetahui bahan-bahan apa saja yang perlu dihindari karena dapat menyumbat pori, lalu bahan-bahan apa yang perlu dicari dalam moisturizer non-comedogenic?

Menurut sebuah studi yang dipublikasikan di Journal of Clinical and Aesthetic Dermatology pada tahun 2014, bahan pelembab yang non-comedogenic dan aman digunakan untuk kulit berminyak dan mudah berjerawat adalah:

  • Glycerin

Glycerin memiliki skala komedogenik 0. Artinya bahan ini sama sekali tidak menyumbat pori. Glycerin merupakan bahan pelembab humektan yang efektif untuk meningkatkan tingkat hidrasi kulit pada lapisan stratum corneum, sehingga dapat mengatasi dan mencegah kekeringan pada kulit. Glycerin umumnya digunakan sebagai moisturizer pada konsentrasi di bawah 5% dan dikombinasikan dengan bahan aktif pelembab lainnya.

  • Dimethicone dan cyclomethicone

Kedua bahan ini merupakan senyawa turunan silikon dan banyak digunakan sebagai bahan aktif pada moisturizer yang diformulasi khusus untuk kulit berminyak dan mudah berjerawat. Dimethicone dan cyclomethicone merupakan bahan pelembab yang bersifat emolien yang dapat melembabkan dan melembutkan kulit, dan bersifat oklusif dengan melindungi kulit dari kekeringan. Kedua bahan ini bersifat non-comedogenic dan hypoallergenic. Dimethicone dan cyclomethicone banyak digunakan pada moisturizer yang bebas minyak atau oil-free. Kadar dimethicone dalam formula produk moisturizer sangat bervariatif, dari 1% hingga 30%.

  • Hyaluronic acid

Bahan yang satu ini merupakan salah satu bahan aktif moisturizer favorit para ahli kulit. Hyaluronic acid dapat meningkatkan kelembaban kulit dengan mengikat molekul air untuk mempertahankan hidrasi kulit. Hyaluronic acid juga dapat melembutkan dan menghaluskan permukaan kulit. Bahan moisturizer ini juga bersifat non-comedogenic. Kadar hyaluronic acid dalam moisturizer non-comedogenic umumnya berkisar antara 0.1 hingga 2%.

Kesimpulan

Moisturizer non-comedogenic merupakan pelembab kulit yang tidak menyebabkan penyumbatan pada pori kulit, sehingga aman digunakan untuk kulit berminyak dan kulit yang mudah berjerawat. Meskipun moisturizer non-comedogenic tidak mengobati jerawat, namun memakai moisturizer non-comedogenic dapat membantu mengurangi penyebab utama jerawat, yaitu pori-pori yang tersumbat. Untuk memilih moisturizer non-comedogenic, pertama pilihlah moisturizer yang memiliki label non-comedogenic.

Amati komposisi bahan moisturizer, dan pastikan bahan-bahan tersebut memiliki skala komedogenik 0 hingga 2. Selanjutnya hindari bahan-bahan yang telah terbukti dapat menyebabkan komedo seperti isopropil miristat dan turunannya, PPG-2-myristyl propionate, serta lanolin dan turunannya. Hindari juga beberapa minyak alami yang bersifat komedogenik seperti coconut oil, olive oil, shea butter, dan cocoa butter. Dan carilah moisturizer dengan bahan aktif yang bersifat non-comedogenic seperti glycerin, dimethicone, cyclomethicone, dan hyaluronic acid.

Referensi:

  1. http://europepmc.org/article/med/138532
  2. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/6229554/
  3. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/16488305/
  4. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4025519/

About the author

Tuty Alawiyah (BS Chemistry)

Add comment

Tentang Minimalist

Minimalist adalah satu tempat untuk menemukan semua informasi yang jelas, singkat, dan tidak memihak tentang solusi perawatan kecantikan kulit dan rambut yang perlu Anda ketahui.